Sosial Media Pada Remaja Modern Ternyata Bisa Menyebabkan Depresi

Sosial media atau yang dikenal dengan medsos saat ini dimiliki hampir oleh setiap orang terutama remaja. Medsos tersebut digunakan tidak hanya untuk saling membangun silaturahmi antara satu dengan yang lainnya, namun juga untuk memberikan beragam jenis informasi. Media sosial memiliki sisi positif dan negatifnya. Salah satu sisi negatifnya dalah menjadi pemicu atau faktor penyebab gangguan masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan stress bahkan depresi.

Berdasarkan para peneliti, tingkat depresi pada anak dan remaja terus meningkat sejak 1930an. Ada beragam jenis faktor yang menyebabkan depresi pada remaja. Fakta menyebutkan jika 76% remaja di dunia menggunakan media sosial dan 50% diantaranya kecanduan menggunakan medsos. Menurut hasil riset yang dilakukan oleh professor psikologi Universitas Negeri San Diego, California, AS yaitu Jean Twenge, mengemukakan jika saat ini masalah yang paling besar yang dihadapi remaja modern saat ini adalah tuntutan kehidupan modern.

Baca juga: Gaya Hidup Modern Anak Muda

Menurut Twenge, persaingan di sosial media menjadi salah satu penyebabnya. Jika sebelumnya stress para remaja umumnya berkaitan dengan tekanan karena ekspektasi orang tua, tuntutan akademis namun di era modern, salah satu faktornya adalah media sosial. Semakin banyak waktu yang dihabiskan di dunia media sosial menyebabkan resiko remaja yang mengalami tekanan mental hingga berujung stress dan depresi oleh remaja semakin banyak. Penggunaan media sosial bisa menyebabkan tingkat kepercayaan diri serta kepuasan hidup remaja menjadi menurun.

Pada dasarnya, remaja memiliki sifat yang tidak ingin kalah dengan yang lainnya atau suka bersaing sehingga ingin menunjukkan sesuatu yang lebih dibandingkan yang lainnya. Dahulu, sebelum ada medsos, tingkat kepuasan lebih mudah tercapai karena tidak ‘merasa’ tertuntut untuk tampil atau memiliki yang lebih. Namun, saat ini karena banyak media sosial yang lebih mudah diakses tidak hanya karena dengan menggunakan komputer atau laptop namun juga dengan ponsel pintar, sudah lebih mudah untuk mengetahui kabar atau berkirim pesan dengan orang lain, misalnya mengenai kehidupan hedon, sehingga menyebabkan orang lain juga ingin menunjukkan ke khalayak ramai mengenai kehidupan yang dimiliki misalnya lebih mewah atau lebih bahagia.

Menurut Twenge, stimulasi berlebihan yang secara konstan dari penggunaan sosial media menggeser sistem syaraf ke mode bersaing sehingga depresi dan kecemasan yang dialami remaja meningkat. Apalagi, sejak banyak orang yang menggunakan medsos dan smartphone, interaksi antar muka dengan orang lain menjadi berkurang sehingga rasa tanggung jawab, pemahaman terhadap diri sendiri dan hubungan dengan sekitar termasuk orang lain lebih kuat. Agar tidak menyebabkan depresi pada remaja, terutama pada anak yang beranjak remaja, maka perlu juga pemantauan dari orang tua. Perkuat juga hubungan antar orang tua dan anak sehingga anak menjadi lebih bisa terpantau dan terkendali dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *