Trend Lifestyle Mahasiswa Yogyakarta

Yogyakarta merupakan kota yang dijuluki sebagai kota pelajar. Sebagai kota dengan lebih dari 160 Perguruan Tinggi, baik kampus negeri maupun swasta, tidak heran jika Yogyakarta dipenuhi oleh para pelajar atau mahasiswa yang datang untuk belajar dan kuliah. Jumlah mahasiswa dan pendatang di Yogyakarta bahkan mengalahkan jumlah penduduk asli yang masih tinggal di kota tersebut. Persinggungan antara mahasiswa dari satu daerah dengan mahasiswa dari daerah lain membuat pertukaran budaya dan gaya hidup terjadi di kota ini. tidak sedikit pula gaya hidup yang berkembang menjadi trend. Terdapat beberapa trend lifestyle mahasiswa Yogyakarta yang sangat khas dan mungkin berbeda dengan gaya hidup mahasiswa di kota-kota lainnya. Berikut ini adalah ulasan tentang trend gaya hidup mahasiswa Yogyakarta.

Menjamurnya Komunitas di Luar Kampus

Bagi kebanyakan mahasiswa Yogyakarta, kuliah atau datang ke kampus barangkali hanya dijadikan sebagai rutinitas sampingan, sebab aktivitas mahasiswa lebih banyak dilakukan di luar kampus dengan membentuk komunitas-komunitas. Komunitas tidak sekadar dijadikan sebagai tempat berkumpul dan menambah teman, namun juga dijadikan sebagai ajang bertukar pendapat dan berdiskusi, terutama menyangkut tema gejala sosial yang terjadi dalam masyarakat. Pertukaran ilmu, bagi mahasiswa Yogyakarta, memang lebih banyak terjadi di luar jam kuliah, entah itu di warung kopi atau di kontrakan komunitas.

Yang menjadi trend lifestyle khas mahasiswa Yogyakarta, komunitas-komunitas yang bermunculan kebanyakan bergerak di bidang kebudayaan, entah itu komunitas penulis, komunitas pecinta seni, dan berbagai komunitas yang bersinggungan dengan kebudayaan lainnya. Sebagai kota yang dijuluki sebagai Kota Pelajar sekaligus Kota Budaya, tidak heran jika banyak mahasiswa Yogya yang sadar akan pentingnya melestarikan kebudayaan.

Makan Warung Burjo

Warung burjo banyak bertebaran di seluruh sudut Yogyakarta. Pada mulanya, sajian utama warung burjo adalah bubur kacang ijo. Namun semakin ke belakang, warung burjo berkembang menjadi istilah baru yang tidak hanya merujuk pada warung sederhana yang menjual bubur kacang ijo, melainkan warung yang menjual aneka makanan dan minuman cepat saji dengan harga yang relatif murah. Nasi telur dan mie goreng menjadi hidangan favorit mahasiswa Yogyakarta ketika datang ke warung burjo.

Nongkrong di Warung Kopi

Survey menunjukkan bahwa tidak sampai 5% dari mahasiswa Yogyakarta yang menghabiskan waktu senggangnya untuk pergi ke diskotik. Kebanyakan mahasiswa Yogyakarta lebih banyak menghabiskan waktu luangnya di warung kopi. Di Yogyakarta, terutama di daerah Selokan Mataram dan Nologaten, terdapat ratusan warung kopi yang selalu dipenuhi oleh mahasiswa, terutama di malam hari. Secara keseluruhan, di seluruh sudut Yogyakarta, terdapat lebih dari 1500 warung kopi, tentu itu belum termasuk angkringan kaki lima yang jumlahnya lebih dari 5000 unit. Hal ini menunjukkan bahwa nongkrong di warung kopi sudah menjadi trend lifestyle mayoritas mahasiswa Yogyakarta.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *