Mengenal Gaya Hidup Sastrawan Angkatan 2000-an

gayahidupmu.com-gaya hidup sastrawan

Sastrawan angkatan 2000-an dapat dikatakan sebagai angkatan terakhir yang berhasil dipetakan, yang menghasilkan puluhan hingga ratusan sastrawan dengan berbagai jenis karya. Sastrawan angkatan 2000-an bukanlah sastrawan yang lahir pada tahun 2000-an, melainkan sastrawan yang karya-karyanya mulai dikenal dan mencuat ke permukaan pada medio akhir 1990-an dan tahun 2000-an awal. Nama-nama yang termasuk ke dalam angkatan 2000-an dalam sastra Indonesia di antaranya adalah Agus Noor, Abidah El-Khalieqy, Acep Zamzam Noor, Raudal Tanjung Banua, Joni Ariadinata, dll. sastrawan angkatan 2000-an cukup menonjol karena ketika itu menulis merupakan jalan hidup yang tidak mudah, masih belum menjadi gaya hidup dan hobby sebagaimana saat ini. Artikel ini akan membahas mengenai gaya hidup sastrawan angkatan 2000-an, mulai dari kebiasaan hingga gaya berpakaian.

  • Membaur dengan Masyarakat

Karya-karya sastrawan angkatan 2000-an yang lekat dengan tema kehidupan rakyat kecil dan lokalitas tidak berangkat dari ruang kosong, melainkan berangkat dari permenungan mendalam yang timbul dari fenomena kehidupan sosial yang dialaminya. Sastrawan angkatan 2000-an dikenal dekat dengan masyarakat, hidup membaur dengan warga, bahkan tidak jarang banyak sastrawan yang hidup dan nasibnya tidak jauh berbeda dengan masyarakat kebanyakan. Bandingkan dengan sastrawan kekinian atau sastrawan yang hadir pasca era social media yang lebih banyak mengurung diri di dalam kamar, atau lebih banyak menghabiskan waktu luangnya sendirian dengan nongkrong di cafe sehingga terkesan sangat ekslusif. Tidak heran jika sastrawan angkatan 2000-an melahirkan karya-karya yang sangat membumi, yang berakar dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia kebanyakan, dan karya-karyanya penuh kandungan nilai-nilai luhur terutama yang berangkat dari kearifan lokal masyarakat Indonesia.

  • TIM Sebagai Pusat

Taman Ismail Marzuki atau TIM merupakan pusat kebudayaan khususnya kesusastraan pada medio 1990-an dan awal 2000-an. Diundang membacakan karyanya di TIM merupakan kebanggaan tersendiri bagi sastrawan angkatan 2000-an. Sastrawan yang berasal dari daerah biasanya akan disaring dan dipantau oleh Pusat, dan jika ada sastrawan yang dianggap menonjol akan diundang ke TIM.

  • Berdebat di Surat Kabar

Gaya hidup sastrawan angkatan 2000-an yang sangat elegan dan berbudaya adalah berpolemik dan berdebat mengenai kesusastraan dan kebudayaan melalui surat kabar. Para sastrawan akan saling menyampaikan pendapatnya dengan cara mengirimkan opini atau esai ke surat kabar, sementara sastrawan lain yang tidak setuju dengan pendapat atau opini tersebut akan membuat tulisan balasan dengan sudut pandang yang lain. Tidak jarang, polemik dan perdebatan tersebut berlangsung hingga beberapa edisi, sehingga sangat menarik untuk diikuti oleh pembaca. Polemik dan perdebatan di surat kabar tentu akan menawarkan wacana yang segar tentang sebuah peristiwa, dan baik untuk mengasah sikap kritis para sastrawan.

Itulah beberapa gaya hidup sastrawan angkatan 2000-an yang sangat positif untuk membangun energi berkarya. Persaingan dilakukan secara sehat dan media massa ketika itu benar-benar menjadi media dan mediator yang baik dalam hal memfasilitasi keratifitas sastrawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *