Informasi Terkini Eka Kurniawan

Eka Kurniawan merupakan penulis Indonesia yang namanya mencuat ke dunia Internasional dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan. Penulis kelahiran Tasikmalaya pada tahun 1975 tersebut berhasil meraih berbagai penghargaan di bidang sastra dan karya-karyanya mulai diterjemahkan ke berbagai bahasa di berbagai penjuru dunia. Eka yang menyelesaikan studinya di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada pada tahun 1999 ini sering dibanding-bandingkan dengan Pramoedya Ananta Toer, terutama popularitasnya di publik sastra Internasional. Eka Kurniawan yang namanya mulai dikenal oleh pembaca tanah air melalui karya novelnya yang berjudul Cantik Itu Luka (2002) tersebut kini sedang berada di puncak popularitasnya. Berikut ini merupakan informasi terkini tentang Eka Kurniawan, salah satu novelis terbaik Indonesia saat ini.

Jauh sebelum menerbitkan novel larisnya yang berjudul Cantik Itu Luka (2002), Eka sudah pernah menerbitkan dua buku, yaitu buku berjudul Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis yang merupakan penelitian ilmiah atas karya-karya Pram. Buku pertama Eka tersebut diadaptasi dari skripsinya pada Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Setelah menerbitkan buku pertamanya tersebut, Eka menerbitkan kumpulan cerpen berjudul Corat-coret di Toilet dan Cerita-cerita Lainnya yang terbit pertama kali pada tahun 2000. Nama Eka mulai menjadi perbincangan oleh publik sastra tanah air setelah novel pertamanya yaitu Cantik Itu Luka menjadi polemik di berbagai media massa ketika itu, polemik yang mendebat tentang kualitas karya novel tersebut dan membuat kritikus sastra terbelah menjadi dua kubu, antara memuji dan mencaci.

Eka menerbitkan novel keduanya yang berjudul Lelaki Harimau pada tahun 2004. Novel kedua Eka ini banyak mendapatkan pujian dan dinilai lebih berhasil dibandingkan dengan Cantik Itu Luka. Setelah menerbitkan Lelaki Harimau, Eka membutuhkan jeda waktu sepuluh tahun untuk menerbitkan novel ketiganya yang diberi judul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014). Dalam kurun waktu sepuluh tahun tersebut, Eka hanya menerbitkan dua buku kumpulan cerita pendek, yaitu Gelak Sedih (2005) dan Cinta Tak Ada Mati (2005). Pada kurun waktu tersebut, Eka lebih disibukkan menggarap skenario film televisi di sebuah stasiun televisi swasta, sembari terus mengerjakan pyoyek novel prestisiusnya yang kelak terbit dengan judul O (2015). Konon, novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas di atas merupakan salah satu fragmen dalam novel O yang berkembang terlalu jauh sehingga menjadi sebuah novel yang independen. Sebelum novel O terbit, Eka sempat merilis satu kumpulan cerita pendek lagi yaitu Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (2014).

Baca Juga: BERITA TERKINI TENTANG DIMAS KANJENG TAAT PRIBADI

Informasi terkini tentang Eka Kurniawan, dalam kurun waktu satu tahun terakhir Eka meraih berbagai pernghargaan, di antaranya adalah: World Reader’s Award 2016 untuk novel Beauty is a Wound (Cantik Itu Luka). Eka juga berhasil meraih pengharhaan OppenheimerFunds Emerging Voices 2016 Fiction Award untuk novelnya Man Tiger (Lelaki Harimau). Melalui novel tersebut, nama Eka bahkan berhasil masuk nominasi Man Booker Prize International pada tahun 2016.

Saat ini, Eka Kurniawan tinggal di Jakarta bersama isterinya dan satu anak perempuannya. Informasi terkini, Eka sedang menggarap skenario film yang diadaptasi dari novelnya sendiri Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (dengan judul Internasional: Vengeance is Mine, All Others Pay Cash), setelah sebelumnya berhasil mengadaptasi cerpennya sendiri menjadi skenario film Sunya (2016).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *